7 kesalahan umum berasuransi di masyarakat

Thursday, July 05, 2012 9:39 PM Posted by Klinik Keuangan 1 comments

Tidak disadari, kemajuan teknologi informasi dan keterbukaan informasi telah mendorong masyarakat semakin melek finansial di Indonesia. Informasi mengenai produk, layanan, distribusi maupun profil perusahaan penyedia jasa keuangan juga semakin mudah diperoleh dan semakin transparan untuk diakses masyarakat.

Khusus mengenai industri asuransi, baik asuransi jiwa maupun asuransi umum, ini menjadi berkah tersendiri. Rasa percaya akan produk asuransi dan profesional yang terlibat di industri ini meningkat drastis, dan terjadi peningkatan penjualan yang signifikan di 10 tahun terakhir. Bisa dikatakan ini adalah imbas positif dari awareness yang meningkat di masyarakat akan kebutuhan berasuransi serta keberhasilan regulator dan industri meningkatkan insurance minded di masyarakat.

Sayangnya, dengan karakteristik masyarakat Indonesia yang amat komunal dan cenderung konvensional, terjadi beberapa mispersepsi dan kesalahan pembuatan keputusan yang terlanjur dijadikan landasan saat membeli produk asuransi. Tidak jarang ini menjadi keributan hingga ke ranah hukum di kemudian hari. Tentu tidak diharapkan hal ini berlanjut di kemudian hari, bukan ? Untuk itu ada baiknya kita mengenali apa-apa saja kesalahan dalam berasuransi di masyarakat tersebut.

1. Membeli yang tidak dibutuhkan

Cukup banyak produk asuransi, utamanya asuransi jiwa, yang ditawarkan atas basis pertemanan atau pergaulan. Dengan tekanan psikologis atau tidak, dan disadari atau tidak, seringkali ini berujung pada suatu pembelian yang tidak diperlukan atau belum diperlukan. Saya pernah menemui suatu kasus dimana seorang yang sudah berusia lanjut tetapi membeli produk Unit Linked dengan fund yang agresif didominasi saham hanya karena yang menawarkan adalah kerabatnya. Atau seorang bujangan yang dengan bahagia membeli produk endowment education fund insurance karena yang menawarkan adalah ex koleganya di kantor lama. Cepat atau lambat ini akan disadari, bahwa sudah melakukan "salah beli" dan ekspektasinya tidak tercapai. Lalu berakhir dengan ketidakpuasan dan keributan....

Kuncinya : hanya membeli yang dibutuhkan dan jangan bertoleransi sedikitpun karena asuransi adalah kontrak jangka panjang. Jika produk tidak sesuai kebutuhan kita, maka tetapkan hati untuk menolaknya. Jika ingin membantu kawan atau kerabat, gunakan media lain yang tidak akan saling mengikat untuk waktu lama.

2. Tidak membeli yang dibutuhkan

Ini serupa dengan poin di atas, dan seringkali hadir bersamaan atau komplementer. Seorang penjual produk asuransi memiliki kode etik dan dilatih untuk dapat melakukan penjualan yang bersifat konsultatif. Artinya penjualan hanya dilakukan jika sesuai dengan kebutuhan prospek. Sayangnya aneka produk yang ditawarkan memberikan tingkat komisi penjualan yang berbeda. Dan bagi penjual yang tidak beretika, cukup sering ditemui dimana hanya menawarkan dan mengekspos produk yang memberikan insentif penjualan yang besar saja padahal belum tentu dibutuhkan oleh prospek. Akibatnya terjadi dua kesalahan sekaligus : yang tidak perlu malah dibeli, sementara yang diperlukan malah tidak terbeli karena memang tidak ditawarkan....

Kuncinya : disiplin dengan penjual produk asuransi. Anda harus punya rencana keuangan jika akan bertemu dengan agen penjual asuransi atau lebih baik tolak janji untuk bertemu. Jika Anda bertemu, Anda harus disiplin pada diri Anda sendiri terlebih dahulu. Hanya perkenankan si agen untuk tawarkan produk yang Anda telah sebutkan di awal sebagai kebutuhan Anda.

3. Tidak sesuai nilai kebutuhan proteksi

Seringkali kesalahan justru dimulai dari diri Anda sendiri selaku pembeli. Andalah yang membayar, dan Andalah yang harus menentukan apa yang Anda butuhkan. Setiap individu adalah unik dan tidak selayaknya Anda tumpukan rencana keuangan Anda pada ilustrasi atau presentasi penjualan agen asuransi. Anda sudah harus tau jenis produk apa kira-kira yang Anda butuhkan, untuk jangka waktu berapa lama, dan untuk kebutuhan proteksi senilai berapa. Tugas agen asuransi adalah menangkap informasi tersebut, lalu mencarikan produk yang sesuai dan skema proteksi yang sesuai pula. Anda yang pegang kendali sepenuhnya, bukan mereka.

4. Tidak menyesuaikan kemampuan finansial

Sejumlah produk asuransi dikemas sedemikian rupa baik secara aktuarial maupun secara marketing dengan amat menariknya. Dan ini sah-sah saja. Namun Anda harus ingat bahwa segala sesuatu tidak ada yang gratis. Lupakanlah kesenangan yang diperoleh dari penawaran "No Claim Bonus", atau "Loyalty Bonus", atau "Active Payor Bonus". Semua itu berasal dari uang Anda sendiri koq. Uang yang Anda bayarkan rutin sebagai premi, dan pastinya hanyalah sebagian kecil saja dari profit yangmuncul di kontrak asuransi yang akan dikembalikan ke pembeli.

Apesnya, karena sudah gelap mata, banyak prospek yang main hantam dan putuskan untuk membeli. Di sisi lain, ia tidak memperhitungkan lagi apakah ia akan mampu membayar sesuai jadwal premi yang ditetapkan. Memang untuk menghindarkan polis menjadi lapse (batal) pihak asuransi sering memberikan fasilitas premium loan (pastinya dengan bunga tinggi), dan ini sering menggugurkan klausula untuk memperoleh "bonus". Lupakanlah soal bonus ini. Anda lebih baik fokus pada berapa kemampuan finansial Anda dan sesuaikan dengan kebutuhan proteksi yang Anda miliki.

5. Tidak proaktif dan melibatkan diri

Masyarakat Indonesia di semua lapisan memiliki kecenderungan bossy dan senang dilayani, bahkan bagi nasabah kelas teri sekalipun. Dan penyedia jasa maupun penjual, seringkali dengan senang hati memberikan layanan super ekstra. Jangan salah, ini bisa jadi buruk bagi Anda !!

Semakin Anda tidak proaktif dalam mengurus sendiri asuransi Anda, semakin Anda berjarak dengan realita pengelolaan asuransi Anda. Ada dua kerugian. Pertama, Anda semakin tergantung dengan agen asuransi Anda, sementara mereka tidaklah selamanya ada di situ. Disamping mereka sering memberikan pelayanan ekstra yang tidak ada di SOP perusahaan, akibatnya saat Anda dilayani orang lain, Anda akan meradang karena merasa "pelayanannya turun!!!"

Kerugian kedua, Anda tidak mengetahui dengan baik bagaimana realitas produk asuransi Anda dikelola, bahkan bisa jadi apa-apa saja hak-hak dan kewajiban Anda tidak Anda ketahui dengan baik. Hampir selalu ditemui pemegang polis hanya tau soal "isi form permohonan asuransi", "terima buku polis", "bayar premi", dan "ada benefit asuransi". Padahal seringkali produk asuransi, terutama asuransi jiwa, dikemas dengan amat kreatif dan menguntungkan bagi nasabahnya yang kritis.

6. Tidak membaca dengan teliti polis dan kontrak asuransi

Karena membeli dari orang dekat yang dipercaya (kawan atau saudara), lalu merasa bahwa nilai polisnya kecil, atau merasa membeli sebatas untuk "menolong", akibatnya si pemegang polis seringkali tidak membaca dengan seksama isi kontrak asuransi termasuk kesesuaiannya dengan apa-apa saja yang pernah disajikan di ilustrasi maupun penjelasan lisan si agen. Mudah ditebak, di kemudian hari akan muncul ketegangan saat terasa ketidakpuasan karena perbedaan antara apa yang dipahami dengan apa yang tertera di kontrak.

Membaca dengan teliti juga memberikan kesempatan bagi pemegang polis untuk memahami hak kontinjen mereka (hak yang muncul belakangan saat suatu klausula terjadi), yang pastinya hanya akan muncul di kemudian hari. Atau jika ada istilah atau pemahaman yang tidak diketahui, bisa diidentifikasi lebih awal jika dokumen kontrak ini dibaca dengan seksama.

7. Tidak mengindahkan fasilitas free look period

Ini adalah fasilitas masa tenggang dimana jika pada masa ini Anda merasa salah membeli, tidak puas dengan polis yang diterima, atau tidak puas dengan pelayanan atau produk yang dibeli, maka Anda dapat membatalkan pembelian ini dan memperoleh pengembalian premi yang sudah dibayarkan. Terkait dengan point no 6 di atas, seringkali karena tidak peduli dengan proses pembelian yang benar, maka pemegang polis tidak mengetahui atau tidak mengindahkan masa tenggang ini. Akibatnya saat muncul kekecewaan dan berniat membatalkan polis yang terlanjur dibeli, merasa dirugikan karena tidak memperoleh pengembalian premi.


JADI BAGAIMANA MENGATASI KESALAHAN-KESALAHAN TERSEBUT ?

Mudah saja. Cukup tiga langkah berikut :
  1. Buat rencana keuangan yang teliti dan komprehensif. Jadi Anda tahu persis apa yang dibutuhkan, berapa banyak dan untuk kapan.
  2. Disiplin diri untuk menjalankan proses pembelian dan pengambilan keputusan yang baik dan benar. Jangan terpengaruh agen, atau strategi promosi. Fokuslah pada kebutuhan Anda sendiri dan kemampuan Anda untuk membayar premi secara konsisten. Jangan terlena dengan aneka tawaran bonus, diskon atau hadiah, karena semua itu akan menggunakan uang Anda sendiri lho.
  3. Membaca kontrak asuransi dengan teliti, sehingga Anda tahu persis hak-hak dan kewajiban Anda serta aneka benefit dan konsekuensi dari hal-hal tersebut.

Selamat berasuransi dengan baik dan benar !

Reactions: 

18 Kebiasan Buruk yang Membuat Anda Susah Kaya - detikFinance

Thursday, February 16, 2012 5:56 PM Posted by Klinik Keuangan 0 comments

Jumat, 17/02/2012 07:15 WIB
18 Kebiasan Buruk yang Membuat Anda Susah Kaya 
Angga Aliya
- detikFinance

Jakarta - Uang sering membuat orang pusing dari waktu ke waktu. Beberapa orang berusaha melakukan hal yang bisa membuat uang semakin berharga, namun beberapa orang justru malah membiarkan uangnya hilang begitu saja.

Salah satunya adalah dengan melakukan beberapa hal tidak menguntungkan, seperti pemborosan dan tidak pernah menabung atau berinvestasi. Hal-hal percuma seperti ini yang membuat orang tidak sadar kalau kekayaannya akan lenyap dalam waktu singkat.

Berikut ini beberapa hal yang harus anda hindari atau berhenti lakukan jika sudah terjadi, karena bisa mengancam kesehatan finansial anda, seperti dikutip dari freefrombroke.com, Kamis (15/2/2012).

1. Tidak punya anggaran


Tidak punya anggaran sama sekali bisa berbahaya bagi kondisi finansial anda. Jangan sampai anda memutuskan untuk "pakai saja dulu uangnya, baru nanti kita hitung di akhir bulan."

2. Tidak punya gambaran untuk pengeluaran bulanan


Belum punya catatan anggaran, setidaknya anda harus punya perkiraaan biaya pengeluaran per bulan. Gambaran dan catatan pengeluaran itu perlu karena akan ada beberapa biaya yang sering tanpa sadar anda keluarkan.

3. Tidak punya investasi yang menghasilkan


Anda bisa mengucapkan selamat tinggal kepada kondisi finansial anda karena akan segera mati jika tidak punya satu pun investasi yang menguntungkan, minimal yang bisa menghasilkan uang meski hanya sedikit. Jangan pakai internet hanya untuk belanja online, tapi juga cari informasi mengenai instrumen investasi, dan berinvestasilah!

4. Tidak menyadari perkembangan ekonomi terkini


Meski mereka mendewakan uang (untuk dihambur-hamburkan), orang yang boros tidak akan tahu mengenai perkembangan ekonomi terakhir. Eropa krisis, oh? Indonesia masuk investment grade, apa itu? Barulah setelah uangnya habis, mereka sadar bahwa kelakuannya sia-sia.

5. Tidak menikmati karirnya tapi diam saja


Jika anda tidak suka dengan karir yang anda jalani, jangan diam saja, masih banyak pilihan karir di luar sana yang siap anda garap. Jika diteruskan, selain tidak produktif juga tidak membuat anda nyaman dalam mencari uang.

6. Tidak punya prioritas dalam finansial


Tentu saja, hal pertama yang dia lihat akan dia beli untuk orang-orang yang suka boros. Mereka tidak punya prioritas dalam hidupnya, bahkan untuk menabung sekalipun.

7. Sering ganti-ganti mobil


Membeli mobil, baik itu kredit atau tunai sebaiknya dilakukan dengan rencana jangka panjang. Jangan sampai, anda cuma membeli mobil dengan perkiraan kalau anda bosan tinggal beli lagi. Jangan biarkan perasaan gengsi anda menang dalam posisi seperti ini. Tak usah sombong karena tidak bagus secara finansial.

8. Tidak merawat barang


Orang yang boros tidak hanya karena sering menghamburkan uang, tidak menghargai barang yang dibeli pakai uang termasuk pemborosan. Bahkan, orang yang malas merawat barang biasanya tidak mau memperbaiki sesuatu jika rusak, tapi memilih untuk beli yang baru. Itulah kenapa biasanya mereka punya mobil baru, komputer baru, handphone baru.

9. Membeli TV layar datar berukuran raksasa


Semua orang pasti ingin tv raksasa di rumah supaya bisa merasa punya bioskop pribadi. Tapi, kalau anda berpikir jernih, uangnya bisa dipakai untuk keperluan lain. Tak perlu memaksakan diri sampai mencicil segala. Memangnya tidak ada layar datar yang berukuran lebih kecil? Dan bukankah tv tabung juga masih tersedia? Atau anda merasa ketinggalan jaman dengan tv model lama?

10. Langganan TV Kabel Premium


Siapa yang tidak suka dengan acara-acara HBO atau Fox? Sah-sah saja jika anda ingin berlangganan channel tersebut, tapi jangan sampai anda ingin berlangganan seluruh channel yang disediakan oleh operator kabel.

Bahkan, mereka akan memaksa anda berlangganan secara paket karena lebih murah, padahal tidak. Akui saja, tidak mungkin semua channel lainnya anda tonton juga setiap hari. Alangkah sayangnya jika anda menghabiskan Rp 1 juta sebulan hanya untuk tv berlangganan.

11. TV di setiap ruangan


Setelah punya tv raksasa dan TV berlangganan yang cukup mahal, anda masih ingin menikmati semua salurannya di setiap ruangan, maka anda memutuskan membeli TV untuk disimpan di tiap sudut rumah. Anda pasti senang menonton TV sampai tidak rela untuk ketinggalan setiap acaranya.

12. Sering makan di luar


Selain tidak sehat bagi tubuh, sering makan di luar juga membahayakan kesehatan finansial anda. Jangan sampai anda terbiasa disajikan makanan oleh orang lain padahal anda atau istri anda bisa menyiakan sendiri, dengan harga yang lebih murah.

13. Berganti-ganti ponsel


Sudah jelas, sering berganti-ganti ponsel (apalagi mengejar tren model terbaru) adalah pemborosan nomor wahid. Jika dipikir baik-baik, harga produk elektronik yang sudah dibeli tidak pernah naik, berbeda dengan rumah atau tanah.

Nilai barang yang anda beli akan berkurang seiring waktu. Anda akan sangat rugi kalau mencicil ponsel, begitu lunas, nilai sebenarnya sudah jauh berkurang dari harga awal. Biasanya, orang-orang seperti ini selalu mengaku tidak rugi karena mendapat kepuasan dari gonta-ganti ponsel.

14. Tidak pernah berolahraga


Apa hubungannya berolahraga dengan kondisi keuangan? Banyak. Tubuh yang sehat adalah aset yang harus dijaga baik-baik. Semakin anda sehat, semakin banyak kesempatan mencari uang. Jika anda sakit-sakitan, selain susah mencari uang juga anda harus mengeluarkan uang banyak untuk biaya perawatan.

15. Sering belanja baru bermerek terkenal


Pakaian terbaru dengan merek terkenal selalu menjadi musuh finansial anda. Jangan sampai tergoda dan terjebak untuk membelinya kecuali anda benar-benar butuh. Anda butuh merek? Mungkin saja, untuk mereka yang ingin dipandang oleh orang lain. Sesuaikan merek dengan kebutuhan.

16. Banyak beli hadiah untuk hari raya


Pernah dengar cerita orang yang terjerat utang kartu kredit hanya gara-gara lebaran kemarin terlalu banyak membeli barang untuk dibagi-bagi keluarga dan tetangga di kampung? Berbagi itu indah dan menghubungkan tali silaturahmi, tapi bukan berarti anda harus berkorban begitu banyak bukan?

17. Upgrade komputer setiap tahun


Orang yang boros senang mengganti-ganti komponen komputer sesering bayi mengganti popok. Mereka selalu punya alasan untuk membeli komponen baru setiap beberapa bulan sekali. Ya anda betul, komputernya bahkan tidak dipakai untuk membantu pekerjaan.

18. Punya banyak gadget


Punya banyak alat-alat elektronik (gadget) yang terkadang dengan fungsi yang sama. Ingin dengar musik, punya iPod atau MP3 player. Ingin main game, punya iPod Touch atau Sony Playstation Portable (PSP). Ingin berselancar di internet, punya iPad atau Samsung Galaxy Tab. Ingin baca buku, punya Kindle atau Kobo eReader. Kalau dipikir-pikir, semua fungsi tersebut bisa ditemukan di satu ponsel pintar saja.

Kesimpulan:


Kebiasan-kebiasaan seperti ini merupakan kabar buruk bagi kondisi finansial anda. Jika setelah membaca ini anda menemukan poin yang ternyata pernah anda lakukan, evaluasi kembali dan lakukan perubahan positif dalam hidup anda.

(ang/qom)

Reactions: 

Informasi Di Balik Kartu Kredit

Sunday, November 27, 2011 11:42 PM Posted by Klinik Keuangan 0 comments

Minggu lalu saya absen dari aktivitas kantor, flu berat menjadikan saya lemas dan akhirnya ambruk juga untuk dua hari kerja terakhir, Kamis dan Jumat. Sebenarnya dengan tingkat aktivitas saya akhir-akhir ini, bisa jadi itu waktu dan situasi yang tepat bagi saya untuk beristirahat agak panjang. Sayang harapan itu tidak sepenuhnya terkabul karena tiga hal : pesona bercengkrama bersama keluarga yang amat besar, godaan untuk terus menelepon atau berkorespondensi e-mail dengan rekan kerja di kantor, dan yang terakhir namun menyebalkan adalah SMS plus telepon dari aneka penawaran produk dan jasa ke seluler saya....

Saya mencatat, dalam kurun waktu tiga hari, Kamis pagi hingga Sabtu sore, saya menerima delapan telepon dari pihak yang berbeda-beda. 3 penelepon kesemuanya blind call (tidak ada relasi apa-apa dengan saya) menelepon untuk menawarkan kartu kredit platinum dan semuanya sampaikan ini pasti diterima (guaranteed acceptance). Gila juga yah.. kasih kredit yang sifatnya "commitment facility" sampai di atas Rp 50 juta cuma model "nembak" begini ? Lalu 5 penelpon, 3 blind call dan 2 solicited call (sudah ada relasi dengan saya sebelumnya yaitu dari penerbit kartu kredit dan bank pembuka rekening tabungan saya). Dua blind call dan solicited call dari pembuka rekening saya, otomatis semuanya adalah bank, menelepon untuk menawarkan KTA (kredit tanpa agunan) kepada saya... ck ck ck... dan solicited call satunya tawarkan upgrade kartu kredit saya dari Gold ke Platinum dengan iming-iming free annual fee. Satu blind call lagi menawarkan saya untuk menjadi executive member untuk klub liburan dengan tujuan Bali untuk suatu chain akomodasi terkenal.

Untuk semua blind call, prosedur saya merespon sederhana, dan cukup dalam empat langkah : (1) sampaikan terima kasih dan "surprise" karena telah masuk dalam target mereka (plus sedikit puja puji sebagai pancingan), (2) lalu tanyakan dapat nama dan nomor telepon saya dari mana dan per kapan dapatnya, (3) tolak dengan halus dan santun dengan sampaikan bahwa saya sudah punya dan pakai yang mereka tawarkan (sudah pasti ngibul....), serta (4) tawarkan dengan santun jika mereka mungkin berminat kirim SMS ke saya sehingga saya bisa catat no telepon kontak mereka (silaturahmi itu tetap penting loh !) sekiranya ada orang yang butuh bisa saya referensikan. Dijamin diskusi telesales tidak akan melampaui 2 menit. Tetapi tetap saja mengganggu tidur apalagi saat sakit kan ?

Namun saya berpikir, semua call tersebut berawal dari data kartu kredit saya yang entah bagaimana bisa sampai ke tangan aneka pihak. Saya tidak mau berpanjang-panjang ribut dengan bank penerbit kartu saya, hanya saja saya sudah niatkan untuk tutup kartu kredit tersebut dan akan apply kartu kredit lain yang tawarkan privacy option, saya sudah peroleh namanya. Walaupun demikian saya sampai pada satu kesimpulan, jika Anda berbisnis, Anda sudah menang separuh lomba jikak Anda kuasai data detail dari pemegang kartu kredit di suatu area. Mengapa ? Karena dari data pemilik kartu kredit kita bisa peroleh informasi-informasi vital berikut yang marketer manapun akan ngiler dan bersedia bayar berapa saja untuk memperolehnya...

1. Informasi penghasilan. Jamak digunakan rumus bahwa batas kredit di suatu kartu kredit adalah sekian kali pendapatan kotor bulanan pemiliknya. Tentu dengan mudah diperkirakan berapa penghasilan kotor yang bersangkutan. Ini berkaitan dengan daya beli dan segmentasi prospek dari barang yang akan dijual.

2. Informasi status kredit. Tentu saja informasi ini akan mudah diperoleh dari suatu data pemegang kartu kredit. Setidaknya kita bisa peroleh informasi mengenai batas kredit di kartu tersebut, dan jika dikombinasikan dengan informasi penghasilan, maka akan diketahui perkiraan berapa plafon kredit yang mungkin diperoleh serta perkiraan berapa credit holding (total nilai kredit yang diperoleh dari berbagai bank). Dua hal lain yang penting dari informasi status kredit adalah "credit saturation" (tingkat pemakaian kredit yang sudah dilakukan) dan "credit performance" (alias macet tidaknya kartu kredit yang dimiliki).

3. Informasi pola belanja dan pengeluaran. Jika kartu kredit aktif digunakan, maka dalam kurun waktu setahun saja sudah bisa dilakukan perkiraan pola belanja dan pengeluaran yang bersangkutan. Misalkan, belanja di hipermarket setiap tanggal 20 sampai 25, makan-makan di restoran mewah setiap akhir bulan, makan-makan di restoran fast food 1x seminggu dsb. Ini memudahkan marketer mengendus pola hidup, perkiraan preferensi atas konsumsi dan lebih jauh lagi persepsi prospek akan komoditas lifestyle dan kesediaan membuang uang untuk lifestyle tersebut. Luar biasa bukan manfaat dari informasi ini ?

4. Informasi preferensi aktivitas belanja. Apa yang Anda pikirkan pada seseorang yang rutin setiap bulan ada dua atau tiga pos pembelanjaan di hypermarket dengan nilai tidak lebih dari Rp 200 ribu setiap pembelanjaan ? Atau seseorang yang setiap minggu setidaknya ada tiga pos pembelanjaan di restoran fast food dengan nilai hanya antara Rp 50 ribu s/d Rp 100 ribu ? Anda akan otomatis berpikir orang pertama sebagai orang yang praktis dan mengandalkan hypermarket untuk aneka kebutuhan sehari-hari ketimbang toko kelontong atau warung. Sementara orang kedua akan Anda tebak sebagai seseorang yang mengandalkan makan siangnya di tempat kerja dari restoran fast food, besar kemungkinan seorang single. Informasi yang kaya dan masih dapat digali jauh lagi bukan jika Anda seorang marketer ?

5. Informasi keberadaan produk finansial lain. Pola penjualan sejumlah produk finansial, terutama asuransi, saat ini memasuki fase yang berbeda dari sebelumnya dimana marak digunakan pola kemitraan (partnership/affinity) antara bank dengan asuransi. Sehingga nasabah bank akan diberikan datanya kepada asuransi untuk ditawarkan membeli produk asuransi dan tentu antara bank dengan asuransi akan berbagi komisi. Ini dikenal dengan istilah bancassurance. Jika kita menemukan di histori transaksi kartu kredit ada sejumlah pengeluaran rutin dengan nama asuransi atau lembaga finansial lain, ini tentu pertanda bahwa pemiliknya melek finansial dan telah menggunakan produk finansial lain. Ini juga menjadi penanda bahwa yang bersangkutan memiliki tingkat akseptabilitas yang masuk akal untuk ditawarkan produk finansial lain. Tinggal kita yang jeli, saat kita lihat ada indikasi dia telah membeli produk A tentu kita harus tawarkan produk lain, misalkan B atau C agar tidak terjadi loyalty conflict karena tentu penawaran kita akan kalah dibanding produk yang telah dibeli terlebih dahulu. Ini suatu informasi maha penting jika Anda seorang marketer dari produk finansial.

6. Informasi usia, kontak, domisili dan kelas sosial. Ini lah informasi pertama yang digali saat kita berurusan dengan suatu bongkahan database nasabah bank. Informasi akan usia dan jenis kelamin akan memberikan kita petunjuk segmentasi awal. Lalu tagihan kartu kredit akan mengindikasikan kelas sosial pemiliknya, terutama dengan memperhatikan kontak dan domisili yang bersangkutan. Tentu berbeda antara tagihan yang dialamatkan ke suatu perkantoran elit dengan tagihan yang dialamatkan ke suatu perkampungan dengan alamat di gang.

Masih berminat untuk melanjutkan kerjasama dengan penerbit kartu kredit yang mengobral data Anda ke pihak lain ? Anda akan dihujani aneka telepon dan SMS penawaran aneka produk. Ada baiknya Anda pikirkan untuk mencari kartu kredit yang memiliki kebijakan privacy lebih ketat. Dan ini tidak sulit lho, mau coba ?

on twitter @klinikkeuangan | e-mail : info@klinikkeuangan.com | website : www.klinikkeuangan.com

Reactions: 

KDRT dan Kegagalan Perencanaan Keuangan

Saturday, November 19, 2011 1:10 AM Posted by Klinik Keuangan 0 comments
Oooops... Jangan langsung serem berpikir bahwa maksud judul itu adalah ada orang dianiaya pasangan karena gagal dalam melakukan perencanaan keuangan. Jauh-jauh lah kita dari soal kekerasan... Serem.

Yang dimaksud KDRT disini adalah : Konsistensi, Disiplin, Resah & Tergesa-gesa ; sebagai empat penyebab utama gagalnya perencanaan keuangan secara umum. Tidak perlu pakai aneka survey atau metode aneh, sudah terlihat koq bahwa semua, atau setidaknya hampir semua, kegagalan perencanaan keuangan diakibatkan salah satu atau kombinasi dari keempat faktor tersebut.

Di pelosok dunia manapun, realita umum yang dihadapi perencanaan keuangan dan para pelakunya, baik profesional, klien maupun institusinya, cuma ada tiga : ketidakpastian, kompetisi, dan waktu.

Ketidakpastian adalah musuh terbesar, ini yang mengakibatkan (maupun bisa jadi juga penyebab) dari adanya fluktuasi finansial. Kompetisi dan hasilnya adalah bagian dari ketidakpastian itu sendiri, walaupun kompetisi adalah suatu tantangan tersendiri. Coba perhatikan, berapa banyak bank, asuransi, produk dan jasa keuangan di sekitar kita? Waktu, sering disepelekan, tetapi berapa banyak faktor ketidakpastian dan kompetisi yang berujung pada kerugian karena tidak cermat berhitung waktu?

Ketiga "musuh" dan tantangan itu akan berujung pada dorongan atau tekanan untuk mengambil sikap dan keputusan yang menyangkut aspek finansial. Disinilah KDRT berperan dalam kegagalan Perencanaan Keuangan.

Umumnya, dalam menghadapi fluktuasi dan ketidakpastian ekonomi, orang mudah terpengaruh, sehingga konsistensinya goyah, lupa pada tujuan awal. Kemudian menjadi tidak disiplin. Saat market membaik, tiba-tiba menjadi superagresif. Atau saat market memburuk, tiba-tiba menjadi hiperpasif, hingga lupa prinsip regularitas, dan menghentikan berinvestasi.

Lebih parah lagi jika dua yang lain ikut bermain : Resah dan Tergesa-gesa. Mendadak jadi resah lihat kurs US Dollar "anjlok" karena terbayang profit yang mungkin tidak pernah dipikirkan, dan jadi tergesa-gesa untuk ikut spekulasi beli US Dollar dengan korbankan alokasi investasi dan proteksi.

Atau contoh lain, tiba-tiba harga emas melejit lebih pesat dari biasanya. Langsung mendadak resah baca aneka media massa dan media on-line beritakan kenaikan harga emas, lalu jadi pengen ikutan punya emas batangan, padahal alokasi dana tidak ada. Akibatnya dengan tergesa-gesa cairkan investasi yang sudah ada dan sudah tumbuh untuk beli emas. Baru sebentar, demam emas mereda, harga emas turun, dan perencanaan keuangan berantakan...

Silakan pikirkan kembali semua opsi yang ada dengan cermat dan teliti. Pastikan semua informasi dan kalkulasi telah dilakukan dan diperoleh perbandingan yang transparan sebelum membuat keputusan.

Saran kami : KDRT dalam bentuk apapun memang harus dihindari...

Selamat berakhir pekan !

on twitter @klinikkeuangan | info@klinikkeuangan.com

Reactions: 

Kiat menghemat pengeluaran premi asuransi anda dengan memanfaatkan Kartu Kredit

Thursday, November 17, 2011 12:20 AM Posted by Klinik Keuangan 0 comments

Syaratnya cuma tiga : ada kartu kredit yang aktif, mau bertanya ke asuransi untuk pembayaran tahunan dan minta discount, serta mau bertanya ke penerbit kartu kredit untuk minta info konversi transaksi cicilan tetap

Kita seringkali merasa dalam dilema, di satu sisi kesadaran finansial kita yang sudah baik memunculkan kewajiban untuk melakukan proteksi dengan asuransi jiwa, dan dengan jumlah dan klausula yang memadai. Sementara di sisi lain, seringkali ini cukup mahal untuk pendapatan kita, dan kita terlanjur tidak mengagendakannya di rencana pengeluaran tahunan kita atau mengalokasikannya di pengeluaran bulanan kita.  Tentu tidak bijaksana bukan jika kita tidak memiliki perlindungan asuransi jiwa karenanya, dan atau mengurangi proteksi yang sudah ada.

Satu hal yang penting, semakin dini kita mengasuransikan diri kita, maka semakin rendah nilai premi yang akan dikenakan kepada diri kita. Sehingga tidak ada yang salah dengan melakukan pengasuransian diri lebih dini. Di sisi lain dari hidup kita, ada benda yang bernama Kartu Kredit dengan aneka penawaran dan fasilitas yang menggiurkan, bahkan melenakan. Sesungguhnya, menggunakan kartu kredit dengan bijak dan cerdas bisa menjadikan kita punya daya beli yang lebih baik. Tidak percaya ?

Kuncinya adalah dengan meminta tenor pembayaran terpanjang ke asuransi kita, biasanya adalah tahunan, dimana untuk pembayaran tahunan akan memperoleh potongan premi (discount). Lalu, nilai transaksi ini akan kita konversikan dengan cicilan tetap di kartu kredit kita untuk periode yang lebih pendek. Anda akan memperoleh nilai kewajiban yang dibayar lebih rendah dari yang semestinya, dan memperoleh keringanan dengan membayar dicicil.

Mari kita cermati pengalaman saya pribadi dengan perusahaan asuransi jiwa dan penerbit kartu kredit yang sama-sama berinisial C. Saya membeli polis asuransi jiwa Term Life dengan opsi pembayaran bulanan, triwulanan, semesteran atau tahunan. Jika pembayaran premi per bulan sebesar Rp P, maka untuk pembayaran semesteran akan dikenakan discount 5% dan untuk pembayaran tahunan akan dikenakan discount 10%. Saya, menghitung, jika saya membayar tahunan, maka nilai premi yang saya bayarkan adalah 90% x 12 x P = 10,8 P saja, alias berhemat sebesar Rp 1,2 P. Lumayan lho nilainya... !

Sebelumnya sayamencermati penawaran-penawaran hyperagresif (sudah bukan lagi superagresif..!!) dengan aneka cicilan tetap berbunga rendah (bahkan tanpa bunga !!!) termasuk tawaran konversi transaksi tertentu dengan nilai di atas ambang tertentu untuk dijadikan cicilan tetap. Pilihan saya jatuh pada suatu tawaran yang mengkonversi transaksi dengan nilai di atas Rp 1 juta menjadi cicilan tetap. Jika saya ambil skema 3 bulan, maka cicilan tetap dengan bunga 0% dan jika saya ambil skema 6 bulan, maka saya akan dikenakan tingkat suku bunga sebesar 0,8%/bulan saja secara flat.

Jika saya ambil opsi kesatu, dengan skema 3 bulan, maka saya cukup membayar sebesar Rp 3,6 P per bulan (dari 10,8 P dibagi 3 bulan tanpa tambahan bunga). Total uang yang saya keluarkan tetap sama, 10% lebih murah karena membayar untuk setahun penuh di muka dengan cara mencicil 3 bulan.

Jika saya ambil opsi kedua, dengan skema 6 bulan, maka total kewajiban saya menjadi {100% + (6 x 0,8%) } x 10,8 P = 11,3184 P atau sekitar 94,32% saja dari total premi setahun sebesar 12 P atau memperoleh discount 5,68% karena membayar untuk setahun penuh di muka dengan cara mencicil 6 bulan. Sementara kewajiban saya mencicil per bulan di kartu kredit adalah sebesar 11.3184 P / 6 = Rp 1,8864 P.

Mungkin kelihatannya diskon 5,68% atau 10% kecil, tapi jika kewajiban premi anda besar, bisa jadi lumayan. Sebagai ilustrasi, suatu polis Term Life flat rate untuk laki-laki tidak merokok usia 39 tahun di asuransi C tersebut adalah Rp 292.000,- per bulan. Jika membayar setahun akan memperoleh discount 10% atau 90% x 12 x Rp 292,000,- = Rp3.153.600,- atau berhemat Rp 350.400,-. Jika dikonversi ke cicilan tetap selama 3 bulan maka cicilan per bulannya adalah Rp 525.600,-. Sedangkan jika dikonversi ke skema cicilan tetap 6 bulan, penghematan adalah Rp 199.027.- dengan cicilan per bulan Rp 347.083,- saja.

Caranya gampang bukan ? Selamat mencoba.

@klinikkeuangan | info@klinikkeuangan.com | www.klinikkeuangan.com

Reactions: 

Beternak Properti ala Koh Edy

Monday, October 10, 2011 9:14 PM Posted by Klinik Keuangan 0 comments
Koh Edy, begitu saya memanggilnya, bukan sosok luar biasa namun juga bukan tanpa apa-apa. Kami berkawan karena hubungan kerja. Lambat laun kami jadi cocok saat bicara soal duit dan ekonomi. Dan dia juga tidak pelit dengan ilmu dan berbagi pengalaman.

Bicara soal pengalaman, ia cukup terbukti saat sukses membiakkan ruko. Dalam 4 tahun ia kini telah memiliki 16 ruko di sejumlah titik di jakarta barat, tangerang dan jakarta selatan. Kuncinya cuma tiga katanya : teliti sama peluang, teliti sama lokasi dan teliti sama rekanan. Menurutnya, tidak ada yang spesial, hanya saja sebagai seorang keturunan Tionghoa, berkawan, bernegosiasi dan berdagang menjadi sesuatu yang "mengalir dalam darah".

Langkah pertama, Ia memulai 4 tahun lalu dengan menjual rumahnya di Tangerang seharga Rp 400 juta untuk membeli satu unit ruko berlantai 4 ukuran 5 x 14 m dengan harga Rp 900 juta. Dari mana sisanya dan tinggal dimana dia? Ia tinggal di lantai 3 dan 4, yang paling tidak diminati penyewa. Ia ambil kredit dari bank untuk 7 tahun dengan uang muka dari jual rumahnya. Lalu dia dapatkan pengontrak selama 2 tahun untuk lantai 1 dan 2 dengan sewa total Rp 200 juta. Cicilan ke bank dibayarnya dari hasil usahanya sebagai seorang agen asuransi.

Langkah kedua, uang hasil sewa tersebut dibelikannya ruko kedua dengan harga sama di kompleks yang sama di wilayah Tangerang tersebut, dan langsung dikontrakkannya kepada suatu bank swasta selama 5 tahun dengan total nilai kontrak dibayar dimuka senilai Rp 750 juta. Ini semua selesai dalam waktu kurang dari 6 bulan saja.

Langkah ketiga, dua tahun kemudian saat penyewaan di ruko pertama habis. Ruko dijualnya dan laku Rp 1.4 milyar. Dibayar lunas kredit ke bank yang baru berjalan 2 tahun dan masih tersisa Rp 750 juta. Uang itu dijadikan uang muka dan dibelikannya 3 buah ruko di wilayah Jakarta Selatan pinggiran yang dinilainya akan potensial. Nilai transaksi Rp 1.9 milyar untuk 3 ruko dengan kredit dari bank. Hanya hitungan minggu ketiganya disewakan dengan jangka waktu 3 tahun dan memperoleh dana segar Rp
750 juta.

Langkah ke empat dalam beberapa bulan sesudahnya adalah menawarkan pada salah satu penyewanya untuk membeli dengan diskon. Akhirnya laku cepat dengan nilai Rp 800 juta net setelah dikurangi pengembalian uang sewa sekalipun ternyata masih untung. Artinya saat ini ada uang tunai Rp 1.5 milyar, 3 ruko dan utang ke bank Rp 1.2 milyar. Utang dilunasi dan kekayaan bersih adalah 3 unit ruko dan dana tunai Rp 300 juta.

Teruuuuus saja hal ini dilakukan... Saat ini praktis ia hidup dari komisi agen asuransi sebesar Rp 50-60 juta per bulan, plus hasil sewa propertinya yang belasan itu.

Saat ditanya apa perbedaan orang keturunan Tionghoa dan warga pribumi dalam berbisnis? Jawabnya "kami melihat penderitaan sebagai investasi dan low profile sebagai mata uang untuk membeli sukses ; sementara yang lain melihat penderitaan sebagai nasib sial dan kalaupun low profile karena belum mampu tampil high profile"

Silakan dicerna. Yang jelas ia tidak mau merujuk pada etnis yang manapun. Ia hanya bilang "kami" dan "yang lain". Tertarik mau jadi Koh Edy?

On twitter @klinikkeuangan | info@klinikkeuangan.com | blog : www.perencanaankeuangan.info

Sent from my BlackBerry®

Reactions: 

Rencana Dana Pendidikan Menggunakan Emas

Friday, October 07, 2011 1:50 AM Posted by Klinik Keuangan 0 comments

Emas memang sangat disarankan sebagai alat lindung nilai. Dalam kaitannya dengan fungsi lindung nilai ini, sebenarnya fungsi emas bukan hanya sebatas melindungi aset kita dari gerusan inflasi namun juga berfungsi sebagai media investasi dan pencapaian nilai untuk perencanaan keuangan. Hal yang dapat kita lakukan terkait upaya pencapaian nilai ini adalah untuk perencanaan dana pendidikan, perencanaan dana ibadah haji atau bahkan perencanaan dana pernikahan anak misalnya.

Sekedar ilustrasi, misalkan biaya pendidikan tinggi saat ini membutuhkan dana Rp 120 juta untuk uang pangkalnya. Sementara putra/putri kita baru berusia 6 tahun sehingga masih tersisa 12 tahun untuk sampai ke jenjang tersebut. Tentu nilai ini akan meningkat secara nominal karena tergerus inflasi, dimana diperkirakan inflasi biaya pendidikan mencapai 12% per tahunnya. Maka, dalam 12 tahun mendatang diperkirakan biaya pendidikan tersebut telah mencapai Rp 467 juta lebih!!!

Sekarang, mari kita tengok potensi lindung nilai dan pencapaian nilai melalui investasi emas. Kita perkirakan harga emas per gram saat ini Rp 520.000,- dan akan meningkat per tahunnya secara rata-rata sebesar 20%. Maka untuk memperoleh emas senilai Rp 1.6 milyar di atas dibutuhkan emas murni senilai Rp 52 juta saat ini atau sebanyak 100 gram. Bagaimana jika kita tidak mampu membelinya sekaligus ?

Cara pertama : ambil KTA atau Kredit Tanpa Agunan. Dengan tingkat suku bunga rata-rata sekitar 1.4% per bulan, maka jika anda mengambil kredit sebesar Rp 52 juta anda akan harus mencicil Rp 2.9 juta/bulan selama 24 bulan, atau harus mencicil Rp 2.2 juta/bulan selama 36 bulan, atau harus mencicil Rp 1.8 juta/bulan selama 48 bulan, atau jika ingin mencicil 60 bulan sebesar Rp 1.6 juta/bulan.

Cara kedua : mencicil membeli emas. Dengan asumsi perhitungan di atas kita membutuhkan 100 gram, dan kemampuan kita rata-rata per bulan menyisihkan dana Rp 2 juta-an untuk membeli emas, maka kita bisa anggap akan dicicil membeli emas sebanyak 5 gram per bulan atau seharga sekitar Rp 2.5 - 2.7 juta. Yang harus diperhatikan dengan cara ini adalah tiga hal berikut :
(1) kebutuhan dana untuk mencicil pembelian emas akan kemungkinan besar terus meningkat sejalan dengan pergerakan harga emas per gram nya
(2) harga emas per gram untuk satuan kecil (misalkan 5 gram) pasti lebih mahal dibandingkan harga emas per gram untuk satuan besar  (misalkan 100 gram)
(3) adanya fluktuasi harga emas serta kedua hal di atas seringkali mengakibatkan kegagalan dalam perencanaan karena gagal mengantisipasi kebutuhan dana

Penggunaan KTA memang terasa tidak lazim, namun untuk hal yang lebih pasti, dan produktif, secara finansial bukanlah sesuatu yang tabu. Silakan dicoba !

On twitter @klinikkeuangan | e-mail : info@klinikkeuangan.com | website : www.klinikkeuangan.com | blog : www.perencanaankeuangan.info

Reactions: 

Saat Kondisi Pasar Kacau

Monday, September 19, 2011 2:30 AM Posted by Klinik Keuangan 0 comments

Saat terjadi kekacauan di pasar finansial (baca : harga unit investasi merosot cepat) maka perlu dilakukan suatu langkah antisipasi dan olah informasi. Secara umum, menurut para pakar, dan dari aneka referensi investasi, diperoleh empat langkah berikut yang mungkin bisa dijadikan referensi praktis bagi rekan2 para investor untuk tidak bermuram durja saat portofolionya ambruk..

Tentu perlu dipertimbangkan lagi semua langkah dengan masak dan agar disesuaikan dengan kondisi masing-masing agar tidak terjadi salah langkah dan copot jantung sebagai akibatnya... Apa saja langkah-langkah tersebut ?

1. Stay Put

Kedengerannya aja keren, sebenarnya arti dari strategi ini simple banget loh : didiemin aja... :-). Sebagian kalangan berpendapat ini strategi yang amat berguna saat kita kekurangan resource (gak ada dana untuk lakukan "serangan balik", kurang sumber informasi, atau malah lagi males dan gak selera untuk merespon kelesuan pasar). Ada pemeo yang bilang "tidak berbuat apapun bukan berarti tidak melakukan apapun, justru berdiam diri itulah action yang dipilih". Benar juga sih, terutama jika market finansial menunjukkan gejala kemerosotan lebih jauh. Langkah ini amat tidak dianjurkan jika kondisi pasar sudah kembali bergairah, atau kondisi pasar sebenarnya dinamis (naik dan turun dengan cepat dan mengikuti pola yang tertentu). Rugi kan ?

2. All Out Attack

Ini adalah strategi agresif yang dikembangkan oleh mereka yang aktif bertransaksi dan memiliki sumber daya yang cukup (finansial, informasi dan daya tahan stres tentunya..). Strategi ini bertumpu pada pergerakan harga unit investasi dan melakukan "serangan" baik saat harga jatuh maupun bounced back. Prinsip dasar "beli selagi murah dan jual selagi mahal" dipraktekkan disini. Jika beli kemahalan ? Ya jual saat lebih mahal lagi. Tidak disarankan bagi mereka yang tidak terlatih, tidak tahan stres, suka malas-malasan dan patah semangat, serta tidak memiliki pengetahuan dan informasi yang cukup.

3.  Compensating Purchase

Strategi ini adalah pengembangan strategi #2 di atas namun dimodifikasi dengan maksud untuk lebih akomodatif dan lebih tenang. Ini menumpukan diri pada pola baku yang mungkin terjadi serta pada potensi keuntungan. Strategi ini menuntut kesabaran, ketelitian dan amat dianjurkan bagi mereka yang memang bertujuan jangka menengah atau panjang. Jika kita membeli X unit pada harga Rp 1,200 lalu sekarang merosot pada harga Rp 1,000, maka penganut strategi ini akan membeli Y unit pada harga tersebut yang telah diperhitungkan sebelumnya, sehingga sekiranya harga unit menjadi Rp 1,050 pun maka sudah memperoleh keuntungan dengan mengkompensasikan kerugian karena X unit turun harga Rp 200. Strategi ini relatif netral dan amat dianjurkan bagi investor serius yang moderat dan memang tidak bertujuan jangka pendek serta memiliki resource yang tidak melimpah-melimpah amat.

4. Cut Loss

Ini strategi untuk mereka yang udah kadung stres, udah kadung miskin karena uangnya kesedot ke investasi lalu ambruk, atau memang investor agresif yang tidak sabaran dan bermaksud melakukan Compensating Purchase ke instrumen investasi lain dengan mengeliminasi kerugian di investasi saat ini. Ini amat tidak dianjurkan bagi mereka yang memang berencana berinvestasi jangka menengah dan panjang, serta memiliki sumber dana terbatas. Lebih baik didiamkan saja sementara waktu. Sedangkan jika kita bermaksud profit taking jangka pendek atau investor yang kaya raya maka strategi ini bisa jadi tepat.

Happy Investing then and Good Luck !

twitter : @klinikkeuangan |e-mail : info@klinikkeuangan.com|website : www.klinikkeuangan.com|blog: www.perencanaankeuangan.info

Reactions: 

MENYENANGKAN, MUDAH DIMENGERTI DAN TERJANGKAU

Thursday, August 18, 2011 8:54 PM Posted by Klinik Keuangan 0 comments

MENYENANGKAN, MUDAH DIMENGERTI
DAN TERJANGKAU
Artikel Pendek Mengenai Perencanaan Keuangan dan Tinjauan Profesi Perencana Keuangan Independen

Sebuah survey tidak resmi yang baru-baru ini dilakukan oleh kolega Perencana Keuangan mengenai Perencanaan Keuangan dan profesi serta jasa Perencana Keuangan memberikan hasil yang bagi kami cukup menarik. Disebutkan bahwa mayoritas responden menyatakan bahwa kata "Perencanaan Keuangan" memiliki asosiasi dengan kata "Investasi", "Asuransi", "Kompleks", "Pasar Modal" dan "Pengiritan". Sementara, kata "Perencana Keuangan" terasosiasi dengan lima kata lain, "Agen Asuransi", "Broker", "Penasehat Keuangan", "Akuntan" dan "Fee".

Menilik responden yang dituju (tinggal di Jakarta, usia 25-40 tahun, keluarga menengah, pendidikan formal D3 – S2), kami cukup prihatin dengan temuan ini. Terlepas dari valid tidaknya survey tersebut dan metode yang digunakan, masing-masing dari kami menemukan realitas yang sama saat kami berinteraksi dengan aneka anggota masyarakat secara informal, menanyakan persepsi dan pemahaman mereka akan arti kata "Perencanaan Keuangan" dan "Perencana Keuangan".

Hal yang paling menarik perhatian kami adalah pada empat kata saja : "Agen Asuransi", "Kompleks", "Pengiritan" dan "Fee". Ini bagian terpenting menurut kami. Perencanaan Keuangan begitu melekat dengan citra asuransi dan agen penjual asuransi. Ini tidak bisa disalahkan, mengingat rata-rata perusahaan asuransi membekali agen-agennya dengan kartu nama bertuliskan "Financial Advisor" atau "Financial Planner" atau "Financial Consultant". Terlepas dari bagaimana cara mereka menjual produk dan jasanya, citra ini telah sedemikian melekatnya.

Ini adalah suatu celah yang harus diperbaiki dari kedua sisi. Dari sisi perusahaan asuransi, untuk memastikan bahwa agen-agennya telah memenuhi kriteria sebagai Perencana Keuangan yang profesional (sekalipun tidak lagi independen tentunya). Sementara dari sisi masyarakat perlu diberikan edukasi bahwa Agen Asuransi tidaklah semuanya Perencana Keuangan dan ada kriteria serta kualifikasi khusus yang harus dipenuhi sebelum seseorang layak disebut Perencana Keuangan.

Citra lain yang cukup menarik adalah citra bahwa Perencanaan Keuangan terasosiasi dengan kompleksitas. Ini hal yang salah, namun menjadi realita yang ada di masyarakat. Saat ini sudah mulai banyak ditemui kolega Perencana Keuangan yang mempergunakan bahasa yang mudah dicerna, sederhana dan tepat sasaran, sehingga "audience friendly" bagi yang awam. Namun sebelumnya terlalu sering aneka istilah teknis dan jargon dijejalkan melalui aneka forum dan event, sehingga memunculkan kesan eksklusif dan keren, namun sulit untuk dipahami. Tentunya mengakibatkan pula kesan "berjarak" bagi sebagian yang merasa tidak mampu untuk memperoleh jasa Perencana Keuangan.

Perencanaan Keuangan sendiri menurut kami adalah sesuatu yang harusnya wajib dilakukan oleh semua orang, dari latar belakang apapun. Bukankah semua orang memiliki tujuan keuangannya masing-masing dan memerlukan perencanaan yang baik ? Untuk tujuan dan pemahaman tersebutlah kami beranggapan bahwa Perencanaan Keuangan harus menjadi sesuatu yang menyenangkan, mudah dipahami dan terjangkau bagi semua kalangan.

Mengenai impresi bahwa Perencanaan Keuangan adalah sesuatu yang tidak terjangkau dan serba berbau pengiritan, ini tidaklah tepat. Bahwa setiap jasa memili harganya, ini adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari. Namun atas setiap jasa tentu ada harga wajar. Sementara, kami beranggapan bahwa 90% dari masalah keuangan yang ada di masyarakat adalah masalah yang standar dan klasik. Bahwa penyelesaian dan obat dari masalah itu bersifat unik, itu tidak terhindarkan, namun adanya populasi yang besar ini tentu menjadikan learning curve tidak lagi curam dan berimbas pada biaya jasa yang semakin bersahabat.

On twitter @klinikkeuangan | www.facebook.com/klinikkeuangan | info@klinikkeuangan.com

Reactions: 

SENJA TIDAK HARUS MURAM, BUKAN ?

8:50 PM Posted by Klinik Keuangan 0 comments

SENJA TIDAK HARUS MURAM, BUKAN ?
Artikel Pendek Mengenai Perencanaan Dana Pensiun



Senja sudah pasti tidak seterang dan secerah siang hari saat matahari bersinar terang dan aneka manusia berlalu-lalang dengan semangat yang masih penuh. Namun senja tidak harus muram, bukan ? Contoh terdekat dan termudah adalah gambar di atas… hanya lima senti dari tulisan ini Anda akan dapatkan suatu gambaran bahwa senja bisa jadi indah, tenang, teduh dan tetap terasa hangat.

Itulah gambaran masa pensiun yang ideal bagi semua orang : masa pensiun yang tenang dan teduh, karena tidak lagi dikejar aneka target dan pekerjaan seperti saat masih aktif bekerja, namun masa pensiun itu harus tetap indah dalam arti tidak terisi dengan aneka kesedihan dan kesusahan, serta masa pensiun itu harus tetap terasa hangat, dalam arti tubuh dan pikiran tetap bersemangat karena ada hal yang bisa dikerjakan, bisa tetap bersenang-senang, bersilaturahmi dan tetap sehat bugar.

Pertanyaannya : Apa yang dibutuhkan untuk bisa memperoleh maksud tersebut ? Tidak banyak.. karena kita semua hanya membutuhkan 3 hal untuk mencapainya.

Satu, tetap hidup sampai usia pensiun dan masa-masa sesudahnya. Untuk bisa menikmati pensiun, tentu kita harus bisa tetap hidup sampai usia pensiun, bukan ? Rata-rata di Indonesia usia pensiun adalah 55 tahun. Maka, kita harus mengupayakan pola hidup sehat, menjauhkan diri dari resiko yang tidak perlu serta menyeimbangkan pola aktivitas-istirahat-rekreasi agar tubuh tetap prima, sehat dan bugar, sehingga diharapkan kita dapat berumur panjang. Disamping, tentu menyakitkan bukan, jika berusia panjang namun hidup sengsara dan sakit-sakitan ?

Dua, membuat rencana aktivitas pengisi masa pensiun. Membuat rencana di sini berarti mencoba melakukan simulasi apa yang akan harus Anda kerjakan, apa yang tidak akan lagi Anda kerjakan dan apa yang mungkin akan Anda kerjakan setelah Anda pensiun. Ini bisa bersifat daftar yang sederhana dan mengundang tawa, tapi percayakah Anda bahwa suatu survey menemukan bahwa 90% pensiunan tidak pernah melakukan hal ini dan pada saat masa pensiun tiba yang terpikirkan hanyalah dua hal : berkebun dan menimang cucu. Padahal, ada ratusan hal menarik lain untuk dilakukan di masa pensiun yang bisa jadi tidak bisa kita lakukan saat masih aktif bekerja, baik karena alasan waktu, kesempatan, finansial dan wawasan.

Daftar ini bisa berisikan diantaranya hal-hal berikut : berjalan-jalan ke kota masa kecil, wisata ke mancanegara, ikut kursus memasak, ikut padepokan yoga, memulai bisnis kecil yang santai dan produktif, berinvestasi di pasar modal, menekuni hobi fotografi, belajar musik bersama cucu, berkebun bunga hias, memelihara ikan Koi, memelihara hewan produktif, mendirikan dan mengelola rumah yatim piatu, mendirikan yayasan komunitas kaum manula dan pensiunan dan ratusan hal lain yang pastinya menyenangkan. Yang pasti, dengan membuat daftar ini akan merangsang kita untuk melakukan hal yang ketiga : Perencanaan Finansial untuk masa pensiun.

Tiga, membuat Perencanaan Finansial untuk masa pensiun. Ini sudah jelas, suatu hal yang wajib dilakukan oleh semua orang yang berencana pensiun dengan bahagia. Anda sudah tua, tidak lagi sekuat dulu, lelah berkarya, dan memiliki puluhan rencana untuk mengisi masa pensiun Anda. Semua perlu dana bukan ? Sementara uang pensiun dari perusahaan tempat kita bekerja (jika ada) atau dari program pensiun wajib pemerintah (sekali lagi, jika ada) tentu tidak pernah besar. Apakah kita pernah mendengar ada orang yang uang pensiunnya besar ? Bahkan pensiunan jenderal atau pejabat tinggi pun menerima uang pensiun yang jauh lebih kecil dari apa yang diterimanya saat masih aktif bekerja.

Saat membuat perencanaan finansial untuk masa pensiun, ada empat hal yang harus kita masukkan ke dalam kalkulasi dan rencana investasi, yaitu :
-        Biaya Hidup ; kita harus memperkirakan dengan seksama berapa biaya hidup yang akan kita butuhkan saat masa pensiun itu tiba. Kita harus berhitung tepat dengan potensi inflasi, perubahan gaya hidup dan pola konsumsi saat pensiun. Kita harus buat inventaris pos-pos apa yang akan tetap kita pertahankan dan akan kita hapuskan pada saat kita memasuki masa pensiun kelak.
-        Biaya Kesehatan ; jamak terjadi orang menjadi menurun tingkat kesehatannya saat masuk usia pensiun, dan ini suatu hal yang alamiah. Sementara, pos-pos pengeluaran kita untuk masalah medis dan kesehatan tidak lagi ditanggung oleh asuransi atau perusahaan tempat kita bekerja. Maka, kita lah yang harus dapat mempersiapkannya agar hidup di masa pensiun kita tetap menyenangkan.
-        Biaya Aktivitas ; seperti diuraikan di atas, kita terdorong (dan juga dianjurkan) untuk membuat sejumlah rencana aktivitas di masa pensiun yang bermanfaat, menyenangkan dan jika memungkinkan, menghasilkan. Tentu semua hal ini membutuhkan biaya, dan bisa jadi tidak sedikit. Maka, kita harus persiapkan sejak sekarang, atau kelak akan menyesal karena hanya bisa jadi macan ompong berdiam diri di rumah karena tidak ada dana yang bisa dipakai beraktivitas.
-        Biaya Tak Terduga ; masa pensiun sebenarnya masa yang berat untuk dilalui dan cukup menegangkan secara finansial. Mengapa ? Karena kita tidak lagi produktif, dan harus melaluinya sendirian. Tidak ada lagi fasilitas kantor yang melayani kita, tidak ada lagi asuransi kesehatan dan kecelakaan yang siap menanggung saat kita sakit atau terkena musibah dan sebagainya. Maka, kita harus mempersiapkan suatu jumlah yang memadai untuk aneka kemungkinan yang bisa terjadi dan tidak mampu kita ramalkan sebelumnya.

Sejumlah pihak yang telah pensiun yang kami temui, memiliki banyak variasi perihal yang akan dimasukkan di dalam kategori ini. Dan ini sah-sah saja, karena semakin detail, semakin nyaman pula kita dalam melalui masa pasca produktif kita. Beberapa diantaranya adalah biaya pemakaman, biaya pernikahan anak, biaya tanggungan hidup anak-cucu dan biaya masa jompo. Seperti apa saja sih dasar pemikirannya ?

Banyak orang tua yang merasa perlu mempersiapkan pemakamannya saat tutup usia nanti, maka bukan hanya tanah pemakaman yang sudah "dipesan" namun juga biaya-biaya yang diperlukan, agar tidak merepotkan keluarga serta sanak saudara saat waktu tersebut tiba. Hal ini amat positif dan apresiatif sebenarnya bagi kami. Lalu sejumlah pihak, bahkan juga merasa waktu di masa tuanya akan lebih "hidup" jika dihabiskan bersama rekan-rekan seusia dan senasib sehingga mendaftarkan diri sejak awal di sejumlah panti jompo profesional yang dikelola secara modern dan elegan seperti halnya hotel. Mereka umumnya yang tidak memiliki anak, atau tidak memiliki keluarga, atau anak cucunya tinggal di kota lain atau negara lain.

Sementara, ada sejumlah pihak lain yang memperkirakan putra-putrinya akan menikah setelah masa pensiunnya tiba, sehingga biaya pernikahan tersebut harus dipersiapkan bersamaan dengan persiapan dana pensiunnya. Dan, seringkali sebagai keluarga muda, maka keluarga baru tersebut masih membutuhkan bantuan atau dukungan finansial dari orang tua, sehingga masih dirasa perlu mempersiapkan dana ekstra untuk mendukung operasional keluarga muda tersebut.

Apapun yang dipersiapkan, sekali lagi semua sah-sah saja. Yang penting, dibuat suatu rencana yang baik dan matang, dan mulai diimplementasikan sesegera mungkin. Semua demi masa pensiun yang bahagia. Senja tidak harus muram, bukan ?

Bagaimana dengan Anda ? Sudahkah Anda memulai perencanaan masa pensiun Anda ?

On twitter @klinikkeuangan | www.facebook.com/klinikkeuangan | info@klinikkeuangan.com

Reactions: